Akhir tahun
1999, saya menududuki kelas 2 SD, saudara sepupu (Abang) saya membawa CD
Playstation One yang berjudul WWF Attitude. Pada waktu itu saya tidak tahu
apa-apa mengenai Gulat atau wrestling, saya tidak tahu apa itu WWF, bahkan saya
tidak suka sesuatu yang berhubungan dengan olahraga fisik. Saat saya dan
saudara-saudara saya pertama kali memainkan game itu, saudara-saudara saya (yang
juga belum tahu apa-apa) menyukai karakter seperti Stone Cold Steve Austin,
Undertaker, Triple H ataupun The Rock. Tetapi pertama kali saya memainkan video
game itu, saya tidak tertarik dengan karakter-karakter yang luar biasa itu,
tetapi saya tertarik dengan Sable, Jacqueline atau Chyna. Saya kaget sebenarnya
melihat adanya wanita di dunia penuh akan laki-laki yang mayoritas berbadan besar
dan berotot. Tiap saya melawan teman saya, saya selalu menggunakan antara
ketiga karakter wanita tersebut. Itu awal saya memasuki dunia wrestling dan
dari awal saya sudah menjadi women’s wrestling fans.
Pertandingan
wanita pertama yang saya tonton adalah Sable vs Tori di WrestleMania XV. Saya
ingat kalau saya membeli VCD bajakan di daerah Gasibu, Bandung. Ada yang
menjual VCD berjudul “WWF Women’s Come Get Some” dan ayah saya membelikan VCD
tersebut. Walaupun saya terkejut melihat konten VCD tersebut, isinya berisi
dokumentasi wanita di WWF. Saya ingat di dalam VCD tersebut sepenuhnya adalah
konten dewasa (dan saya waktu itu baru menduduki kelas 3 SD). Isinya ada
pertandingan Sable vs Tori, saya kaget melihat wanita itu berkelahi di ring,
tetapi dalam satu sisi saya mulai tertarik dengan wanita di WWF. Setiap minggu
saya membeli VCD WWF baru di daerah Gasibu. Entah itu saya membeli VCD PPV atau
SmackDown atau apapun itu, saya berharap konten tersebut berisi pertandingan
wanita (LOL).
Tahun 2000,
saya mulai jatuh hati sama Lita dan Trish Stratus, walaupun jarang saya melihat
mereka bertanding (karena VCD yang saya beli random, dan tidak tahu ada
pertandingan wanita atau tidak). Saya melihat Lita sebagai wanita yang cantik,
tapi tomboi dan atletis, sisi lain saya melihat Trish sebagai wanita yang
cantik dan sensual. Saya baru saja sadar bahwa wanita di WWF itu bermacam-macam
karakternya, tetapi dari awal mereka debut saya langsung jatuh hati kepada
mereka.
Tahun 2001,
mungkin awal-awal tahun saya mulai serius menekuni dunia wrestling, baik itu
pria maupun wanita. Tetapi saya selalu bersikukuh untuk melihat pertandingan
wanita. Saudara saya selalu menghina saya karena menyukai Women’s Wrestling dan
terkadang saya suka marah kalau sesuatu yang suka dihina oleh orang lain. Saya
mulai membeli VCD WWF (Original) di toko CD, Disc Tara. Sekarang saya bisa tahu
VCD mana yang terdapat pertandingan wanitanya, karena dibalik cover VCD
terdapat daftar pertandingan. Survivor Series 2001, adalah PPV dimana Trish
Stratus memenangkan Women’s Championship pertamanya, saya melihat dia menangis
bahagia saat memenangkan Women’s Championship tersebut. Itu kemungkinan pertama
kali saya sadar, walaupun mereka memainkan karakter dan akting di ring, tetapi
mereka benar-benar cinta apa yang mereka lakukan. Saya melihat perjalanan Trish Stratus dari
nol, lalu berkembang menjadi seseorang yang bisa berkerja di Wrestling Ring.
Tahun 2002,
saya terus mengikuti Women’s Wrestling secara tekun, tetapi saya juga mulai
serius mengikuti semua pertandingan yang lain. Tapi saya bukan tipe fans yang
menyukai para wanita ini bertanding di
Bra and Panties, ataupun mereka kontes menggunakan Bikini. Walaupun jujur saja,
tipe pertandingan itu seru-seruan atau lucu-lucuan, tapi saya adalah tipe fans
yang ingin melihat wanita ini benar-benar bertanding di ring. Saya sangat
senang saat Trish Stratus melawan Victoria di Hardcore Match, Survivor Series
2002. Wanita-wanita ini tangguh dan cinta apa yang mereka lakukan.
Tahun 2006,
dimana dunia internet sudah merajalela, dan Youtube sudah mulai berkembang.
Semakin mudah untuk fans wrestling di Indonesia terutama untuk akses menonton acara
WWE atau wrestling. Tahun ini juga saya mulai banyak menonton wrestling selain
WWE, seperti Ring of Honor ataupun TNA, dan salah satunya adalah Shimmer Women’s
Athletes. Di Shimmer saya melihat Beth Phoenix, Britani Knight (Paige), Sara
Del Rey, Rebecca Knox (Becky Lynch), Shantelle Taylor (Taylor Wilde), Amazing
Kong dan atlit wanita lainnya. Saya sangat suka melihat Shimmer karena sangat
gaya pertandingannya lebih memakan fisik dibandingkan dengan WWE. Saya tidak
tahu pada saat itu ada acara wrestling yang khusus berisi Women’s Wrestling
sampai saya nonton Shimmer.
Pertama
kalinya saya menangis menonton WWE dan wrestling adalah saat Unforgiven 2006,
Trish Stratus vs Lita, dimana Trish Stratus pensiun dan keluar dari WWE.
Sebelum Unforgiven 2006, saya benar-benar sedih dan gelisah (istilah sekarang
galau) saat mendengar Trish Stratus akan pensiun. Dia adalah Divas yang
karirnya saya ikuti dari awal ia berkarir. Saya ingat saat itu saya sedang
masuk sekolah (Kelas 8 SMP) dan melihat hasil pertandingan lewat ponsel saya.
Melihat hasil kalau Trish Stratus menang di pertandingan terakhirnya, saya
menangis di sekolah (hingga teman-teman saya cukup khawatir). Saat itu WWE
disiarkan di TV Indonesia (Lativi) dan saya ingat Unforgiven 2006 disiarkan
pukul 01.00 dini hari. Saat melihat Trish Stratus menangis dan harus pensiun,
saya kembali menangis. Saya melihat Trish Stratus sebagai “Childhood Idol”, dia
wanita yang pertama kali saya jatuh cinta selain ibu saya dan wanita di
keluarga saya. Saya sendiri merasa aneh sebenarnya, kenapa saya menangis,
tetapi saya sadar wrestling adalah bidang yang benar-benar saya suka. Mungkin
istilahnya adalah “passion”.
Awal tahun
2007, saya mulai mempelajari (memperdalam) sejarah wrestling dari internet,
baik dari Wikipedia (walaupun suka salah), situ Online World of Wrestling
ataupun segala macam dokumentasi saya tontoni. Saya pelajari dari zaman
teritorial, golden era, Monday night war, attitude era dan berbagai macam jenis
era lainnya. Saya juga mempelajari sejarah Women’s Wrestling dari zaman
keemasan Fabulous Moolah, Mae Young, Mildred Burke, Bull Nakano, Rockin Robin,
Judy Grable dan pioneer lainnya.
Semenjak
Tahun 2004, WWE lebih fokus dengan wanita yang berbasis model dibandingkan
wrestler, kita lihat Divas seperti Christy Hemme, Candice, Maria, Kelly Kelly,
Bella Twins, Maryse, Layla dll. Walaupun jujur saja saya agak kecewa dengan pilihan
WWE lebih fokus dengan Divas bertipe model, tetapi saya tetap saya suka dengan
WWE Divas. Saya bukan tipe yang men-judge bahwa tipe model ini tidak bisa
bergulat di ring, saya sendiri ingat bahwa Trish Stratus dan Victoria adalah
model sebelumnya, tetapi mereka menjadi Women’s Wrestlers yang skill-nya sangat
baik. Saya melihat Layla, Maryse dan Bella Twins menjadi divas yang memiliki
skill yang baik. Selama mereka serius dengan wrestling, dan suka dengan apa
yang mereka lakukan. Memang WWE Divas bukanlah tempat untuk melihat Women’s
Wrestling sesungguhnya, masih ada Shimmer, All Japan Women’s Pro Wrestling,
Shine, bahkan 2007, TNA mulai mengembangkan TNA Knockouts sebagai divisi
terbaik di TNA. Jika kalian hanya melihat WWE Divas, kalian belum melihat Women’s
Wrestling sesungguhnya.
Tidak mudah
menjadi Women’s Wrestling Fan sebenarnya, women’s wrestling selalu menjadi
cemoohan wrestling fans lainnya, terutama WWE. Wrestling Fans selalu mencemooh
para divas, selalu mengatakan kalau pertandingan Divas adalah saat dimana
mereka ke toilet ataupun melakukan aktivitas lain. Walaupun para Divas,
Knockouts ataupun Women’s Wrestler lainnya sudah berusaha untuk memberikan yang
terbaik, selalu saja dijadikan cemoohan orang-orang. Saya tahu ini karena saya
sendiri memiliki forum di Kaskus, dan orang-orang hanya memikirkan keseksian
mereka, tubuh mereka, dan lain-lain, hingga saya harus menghapus forum tersebut
karena komentar kaskuser yang bikin saya kesal. Memang saya sendiri sering
dikecewakan oleh WWE, Divas selalu ditempatkan di tempat yang terburuk. Entah
itu mereka diberikan waktu 30 detik untuk bertanding, entah itu ditempatkan
sebagai “Bathroom Break” ataupun storyline yang tidak konsisten dan tidak
jelas. Saya selalu menjadikan WWE sebagai patokan, karena kalau kalian
mendengar kata wrestling pasti yang terpikirkan pertama kalinya adalah WWE. Hal
ini yang menyebabkan wrestling fans selalu menyalahkan Women’s Wrestlers,
padahal tidak semuanya salah dari para wanita tersebut. Bahkan TNA, terkadang
tidak memberikan storyline yang jelas untuk Knockouts-nya.
Banyak yang
bilang, golden era of Women’s Wrestling di WWE adalah 2002-2004. Saya setuju
dengan orang-orang, walaupun memang mereka hanya diberikan 4 menit atau 6 menit
untuk bertanding, tetapi mereka diberikan storyline dan karakter yang jelas. 30
detik tidak cukup untuk menceritakan apa yang terjadi di ring, lihat saja Nikki
Bella vs Paige, mereka diberikan waktu 9 menit dan para fans sangat tertarik
dengan pertandingan mereka. Storyline yang diberikan terkadang tidak konsisten
ataupun monoton, tidak ada yang menarik. Storyline yang benar-benar bagus
(tanpa harus menghina fisik divas) adalah Trish Stratus vs Mickie James,
ataupun Kaitlyn vs AJ Lee (walaupun ada menghina fisik juga). JIka para divas
ini diberikan storyline yang baik, saya yakin para fans wrestling juga tertarik
dengan divas ini. Saya bersabar untik WWE memberikan kesempatan untuk para
divas atau women’s wrestlers, memberikan waktu, memberikan storyline yang baik,
dan segala sesuatu yang saya cinta di Women’s Wrestling.
2012,
lahirlah NXT, saya tidak melihat NXT yang berkonsep reality show, melainkan NXT
yang dijadikan sebagai Developmental System. Awalnya, NXT juga memberikan women’s
wrestling yang sama saja seperti di RAW dan SmackDown,bedanya mereka diberikan
waktu lebih banyak. Tetapi saya melihat Paige, Emma dan Summer Rae yang
diberikan karakter yang unik dan fans suka dengan karakter-karakter tersebut. Itu
awal saya suka dengan NXT, adalah karakter yang diberikan kepada divas di NXT.
Lalu mereka memberikan sesuatu yang berbeda saat Paige memulai feud dengan
Summer Rae di NXT, saya sadar bahwa NXT menyajikan sesuatu yang berbeda
dibandingkan RAW atau SmackDown. Paige vs Emma untuk NXT Women’s Championship,
saya menangis bahagia melihat pertandingan tersebut, karena momen itu adalah
momen yang saya tunggu-tunggu. Saya sendiri bertanya-tanya, apa mungkin WWE
mulai memberikan momen yang saya tunggu-tunggu kepada para Women’s Wrestlers.
WWE mulai
memberikan sesuatu yang berbeda, seperti Total Divas. Suka atau tidak dengan
Total Divas, tetapi Total Divas membantu para Divas untuk mendapatkan perhatian media dan fanbase
yang begitu banyak. Tidak membantu aspek wrestling tetapi membantu Divas untuk lebih memasuki dunia mainstream. Lihat saja Bella Twins, yang sebelumnya fanbasenya
biasa-biasa saja, setelah membintangi Total Divas sekarang dimana-mana mereka
memiliki banyak fans. Mungkin wrestling fans tidak suka dengan Total Divas,
tetapi saya melihat Total Divas sesuatu yang lain untuk para Divas. Fanbase WWE
Divas semakin banyak, Women’s Wrestling Fans (Divas Fans) sudah mulai gerah
dengan perlakuan WWE kepada Divas, hingga pada suatu saat #GiveDivasAChance
mulai trending di Twitter. Saya sendiri terkejut melihat #GiveDivasAChance
menjadi trending. Sebelum trending di Twitter, saya sendiri sudah tahu bahwa
gerakan #GiveDivasAChance ini sudah ada dari Tahun 2011-2012, tetapi sebelumnya
tidak pernah trending sama sekali. Pujian-pujian bagi para divas mulai datang
darimana-mana, Paige vs Nikki Bella, Paige vs AJ Lee, Charlotte vs Natalya,
Sasha Banks vs Becky Lynch dan pertandingan lainnya. Tidak hanya dari fans,
tapi dari wrestlers lainnya juga mulai memuji divas di WWE, terutama di NXT.
Kemarin di
episode RAW, mungkin adalah puncak dan awal dimana revolusi Women’s Wrestling
dimulai. Jujur saja, yang lain merasa bahagia saat mungkin pada akhirnya WWE
memberikan Women’s Wrestling yang sesungguhnya, tetapi saya disini menonton
segment tersebut sambil menangis. Saya adalah fans loyal Women’s Wrestling,
saya menangis karena momen ini adalah momen yang saya tunggu-tunggu dan saya
ingin merasakannya bersama Wrestling Fans yang lain. Lama sudah saya bersabar
dengan perlakuan WWE mengenai Women’s Wrestling, satu saat saya senang, tapi
keesokannya saya dikecewakan lagi. Tapi entah kenapa, momen kemarin di RAW,
saya merasa WWE saat ini sungguh-sungguh, tetapi saya tahu WWE dan saya tahu
sebagai Women’s Wrestling Fan saya mungkin akan dikecewakan lagi. Semua orang
dari komunitas Wrestling memberikan tanggapan atau respon ke Divas Segment yang
kemarin terjadi di RAW, hampir semua orang membicarakan segment itu dimanapun,
twitter, facebook. Saya tidak pernah malu untuk menangis saat saya menonton
wrestling ataupun yang berhubungan dengan wrestling, karena saya tahu itu
identitas saya sebagai seorang yang cinta kepada industri wrestling dan
menunjukkan “passion” saya kepada wrestling.
Saya sudah
menjadi fans untuk Paige semenjak dia masih menjadi Britanni Knight, saya
adalah fans Sasha Banks saat dia masih menjadi Mercedes KV, saya fans dari
Becky Lynch saat dia masih menjadi Rebecca Knox, tetapi yang pasti saya adalah
fans Women’s Wrestlers yang mendedikasikan diri mereka ke industri Wrestling. Saya
senang mereka sekarang sukses di WWE,karena saya tahu cita-cita mereka adalah
WWE.
Ini sudah
bukannya zaman Bra and Panties Match, Pool Match, ataupun Bikini Contest, ini
adalah zamannya Women’s Wrestling yang sesungguhnya yang benar-benar bertanding
di ring. Entah apapun mereka menyebutnya, baik itu WWE Divas atau TNA
Knockouts, yang pasti mereka yang bergulat di ring dan mendedikasikan dirinya
di ring adalah seorang Women’s Wrestler.
Entah kenapa
saya menulis blog ini, mungkin hanya ingin sekedar sharing. Tetapi setelah saya
kemarin menonton Divas Segment kemarin di RAW, saya menangis dan menjadi teringat
perjalanan saya menjadi Wrestling Fan terutama Women’s Wrestling. Dimana yang
lain menjadi fans Steve Austin dan The Rock, saya disini menjadi seorang fan Trish
Stratus dan Lita. Saya semenjak hari pertama sebagai Wrestling Fans dimulai
dari mencintai Women’s Wrestling, tanpa adanya Women’s Wrestling mungkin saya
tidak akan suka Wrestling sama sekali. Dari hari ke-1 hingga sekarang sudah
hampir 16 Tahun (sekarang sudah masuk dunia kerja) saya cinta dunia Wrestling,
dan selalu menjadi loyal fan untuk Women’s Wrestling dan saya bangga dengan hal
tersebut.
Terima kasih yang sudah baca blog ini, silahkan komentar tentang artikel ini atau kita bisa berdiskusi di Line saya ID: winphere ataupun twitter saya @winphere

























